Senin, 14 Maret 2011

Dana Murah Kembali Jadi Sasaran

Perbankan nasional makin intensif dalam meningkatkan porsi dana murah agar dapat menekan biaya dana sehingga dapat menurunkan tingkat bunga pinjaman kepada nasabah. Salah satu bank yang akan fokus terhadap peningkatan dana murah adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk yang menargetkan porsi dana murah pada 2016 dapat mencapai 70% dari total dana pihak ketiga.Direktur Korporasi BNI Krishna Suparto mengatakan rencana untuk menggenjot dana murah di tabungan dan giro merupakan program jangka panjang dari perseroan.“Rencana jangka panjang dalam 5 tahun ke depan, dana murah mendekati 70%, itu idealnya,” ujarnya. Menurut dia, peningkatan itu akan dicapai secara bertahap dengan target tahun ini porsi dana murah dapat mencapai antara 55% hingga 60% dari posisi tahun lalu sekitar 50%. Sedangkan strategi yang akan digunakan adalah menguatkan produk tabungan dan giro serta makin intensif memberikan pelayanan cash management bagi para nasabah. Bank lain yang agresif untuk meningkatkan dana murah adalah PT Bank ICB Bumiputera Tbk dengan target Rp4,9 triliun atau meningkat sekitar 188,23% dari pencapaian 2010 sebesar Rp1,7 triliun.
Menurut Wakil Presiden Direktur ICB Bumipuetra Dian A. Soerarso strategi untuk menggenjot dana murah bertumpu pada penguatan produk yang sudah ada dengan membuat berbagai promosi. Dia menjelaskan pada tahun ini perseroan menargetkan meraup dana tabungan Rp 1,4 triliun pada tahun ini. Dengan dana tabungan sebesar Rp1,1 triliun pada 2010, maka dia mengharapkan total tabungan mencapai Rp2,5 triliun pada akhir tahun. Adapun untuk giro, lanjutnya, diharapkan dapat mencapai Rp2,4 triliun pada akhir 2011 dengan perhitungan pertumbuhan tahun ini Rp1,8 triliun ditambah 2010 Rp600 miliar. Dian mengatakan peningkatan dana murah merupakan strategi dari perusahaan untuk menekan biaya dana sehingga bisa menurunkan tingkat bunga kredit.“Kalau dana kami dari deposito maka biaya dana akan mahal sehingga ketika dilempar lagi ke pinjaman bunganya akan mahal,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Sementara itu Direktur Utama PT Bank Mutiara Tbk Maryono mengatakan pertumbuhan dana murah pada tahun ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada target penurunan suku bunga kredit. “Saat ini dana murah kami hanya 15% dan sisanya dana mahal dalam bentuk deposito. Kami harapkan dana murah pada akhir tahun dapat meningkat menjadi 20%,” kata dia beberapa waktu lalu.
Pada tahun ini, menurut dia, Bank Mutiara menargetkan untuk menurunkan suku bunga kredit secara bertahap. “Saat ini suku bunga kami sekitar 12-13% dan rencananya akan kami turunkan menjadi 10-11% untuk menghadapi persaingan dengan bank lain,” ujarnya. Sementara itu Krishna memberikan pendapat yang berbeda. Menurut dia perbankan nasional memang sulit bersaing dalam efisiensi dengan perbankan di luar negeri karena biaya intermediasi tanah air lebih besar. Dia menjelaskan tingginya biaya intermediasi itu dikarenakan bank harus memiliki dana cadangan yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk mengembalikan dana deposan.
Sementara itu, lanjut dia, di luar negeri akad kredit dapat dilelang untuk mendapatkan dana yang dapat digunakan untuk mengembalikan simpanan deposan.  “Di negara lain intermediasi cost bisa diturunkan karena pinjaman dapat dilelang lalu uang dapat dikembalikan ke pemilik dana,” jelasnya. Selain itu, menurut dia, fokus bisnis perbankan nasional yang masih bertumpu pada pendapatan bungan berbeda dengan bank di luar negeri. “Pada bank di  Indonesia 70%-80% masih hidup dari bunga. Sedangkan di luar negeri itu maksimum 30%-40%,”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar